ALASAN HADIRNYA YAYASAN TIGA JENDELA BERSAUDARA
1. LATAR BELAKANG
“Indeks embangunan Manusia (IPM) Papua Paling Rendah di Indonesia” ( Sumber Badan Pusat Statistik, 2020). Indikator IPM adalah tiga Bidang yakni Kesehatan, Pendidikan dan Ekonomi. Berbagai masalah Pendidikan, kesehatan dan social ekonomi menjadikan IPM di Indonesia Timur khususnya Papua sangat rendah dibanding Indonesia bagian Barat. Rendahnya IPM menimbulkan kesenjangan dan konflik sosial dalam masyarakat.
Selama lebih dari satu
dekade, Indonesia sudah, sedang dan akan memperbaiki sistem Pendidikan, Kesehatan
dan pemberdayaan Sosial-Ekonominya. Pada Tahun 2020 pemerintah mengalokasikan
APBN 20% untuk bidang Pendidikan, sebesar
Rp169,7 triliun atau setara 6,2 persen untuk kesehatan dan perlindungan sosial
Rp408,8 triliun, tetapi sayangnya, angka fantastis itu gagal menjamin
distribusi dan kualitas Pendidikan, kesehatan dan perlindungan sosial dan
ekonomi yang merata di seluruh nusantara apalagi nbagi kaum fakir miskin.
Perbaikan sistem
Pendidikan, Pemberdayaan Ekonomi dan Pelayanan Kesehatan selama ini sudah
dilakukan dengan kolaborasi dan keterlibatan masyarakat melalui Yayasan dan
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dengan progress yang baik walaupun masih
menemukan masalah. Sistem Pendidikan, kesehatan dan perlindunan social ekonomi
di Indonesia bagian Barat secara umum lebih baik dari Indonesia bagian Timur, seperti Papua. Di Indonesia Timur seperti di
Papua, masih banyak anak-anak yang tidak memiliki akses ke sekolah yang baik, Angka
Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi (AKI/AKB) lebih tinggi, Angka Stunting
yang lebih tinggi, Angka penyakit menular seperti HIV, TBC yang lebih tinggi, Pengetahuan
akan Gerakan Kesehatan Masyarakat (Germas) yang sangat rendah, dan Persentase
penduduk miskin di Papua selama enam bulan terakhir mengalami peningkatan
sebesar 0,09 persen poin yaitu dari 26,55 persen pada September 2019 menjadi
26,64 persen pada Maret 2020.
Menurut Badan Pusat
Statistik (BPS), pada tahun ajaran 2019/2020, terdapat 117.529 siswa sekolah
dasar (SD) dan 39.529 siswa sekolah menengah atas (SMA) di provinsi Papua
Barat. Sementara di provinsi Papua, terdapat 336.644 siswa SD dan 94.897 siswa
SMA. Sepintas, angka itu tampak menjanjikan. Sayangnya, fakta yang ada di
lapangan jauh dari sekadar angka.
Kondisi ekonomi, budaya
dan aksesibilitas geografis menjadi hambatan bagi anak-anak di wilayah timur
Indonesia untuk mendapatkan pendidikan dasar sekalipun. Masih banyak masyarakat
yang belum peduli dengan pentingnya pendidikan untuk anak-anak. Atau, banyak
yang mengalami kesulitan ekonomi sehingga tak mampu menyekolahkan anak-anak
mereka.
Data BPS menunjukan, Papua
Barat dan Papua memiliki nilai paling rendah di antara seluruh provinsi di
Indonesia, dalam laporan Indeks Pembangunan Manusia atau Human Development
Index (HDI) 2017-2018. Papua Barat memiliki nilai 61,73, sedangkan Papua
memiliki nilai 57,25. Sementara nilai rata-rata HDI di Indonesia adalah 69,55. HDI
mengukur pencapaian rata-rata warga di suatu negara dalam hal pembangunan
manusia. Variabel yang diukur di antaranya adalah kesehatan, harapan hidup,
pendidikan dan standar hidup. Selain nilai HDI yang rendah, angka inflasi di
Papua Barat dan Papua cukup tinggi. Banyak anak-anak yang terpaksa putus
sekolah karena mereka harus bekerja demi menunjang ekonomi keluarga.
Masyarakat Papua yang
tinggal di kota-kota besar sudah menyadari pentingnya pendidikan dan
menyekolahkan anak-anak mereka. Hal yang berbeda terjadi di wilayah pedesaan
dan pedalaman. Di sana, mereka tak bisa sekolah karena mereka harus bekerja
membantu orangtuanya. Banyak orang Papua yang malas bekerja. Mereka terlalu
nyaman hidup dari mendayagunakan sumber daya alam di sekitar. Orang-orang lokal
kerap mabuk-mabukan dan tidak peduli pada pendidikan. Inilah kenapa mereka sering
kalah saat berkompetisi dengan orang dari luar Papua dan memutuskan kembali ke
pedalaman.
Data dari United
Nations Children's Fund (Unicef) menunjukkan bahwa 30% siswa Papua tidak
menyelesaikan SD dan SMP mereka. Di pedalaman, sekitar 50% siswa SD dan 73%
siswa SMP memilih untuk putus sekolah. Kondisi geografis merupakan salah satu
faktor yang menyulitkan warga Papua untuk mendapatkan pendidikan. Sekolah-sekolah
di kota-kota besar di Papua mungkin tak memiliki kesulitan yang sama dengan
yang dialami sekolah-sekolah di pedalaman. Namun masih ada persoalan lain yang
menghalangi perkembangannya.
Penyebab Masalah
Pendidikan, Kesehatan dan Sosial-Ekonomi di Papua adalah pertama diakibatkan
oleh Keadaan ekonomi yang menjadikan kelompok fakir miskin sehingga tidak mampu
ke kota untuk mendapatkan fasilytas pelayanan Pendidikan, kesehatan dan
pelatihan keterampilan yang baik. Selain itu keadaan geografis yang
mengahalangi akses ke fasilitas pelayanan kesehatan, sekolah, dan menghambat
pemerataan pembangunan. Kedua adalah infrastuktur fasilitas kesehatan, sekolah,
dan infrastruktur berkaitan dengan pemberdayaan social-ekonomi. Ketiga adalah
kuantitas dan kualitas Sumber Daya baik Lembaga dan individu seperti guru,
dosen, bidan, perawat, dokter, dokter gigi, laboratorum, penyuluh kesehatan dan
penyuluh pemberdayaan sosial dan ekonomi.
Kendala lainya adalah hambatan
perbedaan budaya dan bahasa antara masyarakat dengan tenaga pendidik, tenaga
kesehatan dan tenaga penyuluh sehingga program kesehatan, pendidikan dan
perlindungan sosial tidak sampai kepada sasaran. Banyak siswa, pasien dan
masyarakat yang saat datang untuk pertama kali dalam pelayanan, mereka belum
bisa berbicara dalam bahasa Indonesia. Sebab, rata-rata mereka hanya berbicara
dalam bahasa daerah mereka. Hal ini menghambat pelayanan Pendidikan, kesehatan
dan pemberdayaan Sosial-Ekonomi di daerah pelosok Papua.
Kolaborasi antara
pemerintah dan sektor swasta perlu ditingkatkan. Selama ini Pendidikan dari
swasta jauh lebih disiplin tetapi biaya Pendidikan sangat mahal dan tidak
tersedianya asrama menghambat akses siswa fakir miskin untuk mendapatkan
Pendidikan, Pelayanan kesehatan, pelatihan dan pemberdayaan Sosial-Ekonomi di Pedalaman Papua. Pemenuhan ketiga hal
tersebut dibutuhkan keterlibatan sektor
swasta seperti lembaga lokal yang menguasai keadaan setempat untuk mempercepat
pelayanan. Dalam rangka menangani masalah Pendidikan, Kesehatan dan Perlindungan
Sosial serta PemberdayaanEkonomi, Yayasan Jendela mengusulkan proposal pelayanan
di bidang Pendidikan, Kesehatan dan pemberdayaan Sosial-Ekonomi.
Bidang pendidikan misalnya
dengan membangun akses pendidikan di kawasan pedalaman dengan menyediakan
Pendidikan menengah gratis dan asrama ( Panti Asuhan) gratis bagi masyarakat
kurang mampu di pedalaman Papua. Bidang Kesehatan meningkatkan Program SAKSI
(Satu Keluarga Satu Instruktur) untuk meningkatkan derajat kesehatan keluarga
dan mendirikan Poliklinik Gratis bagi kaum Fakir miskin. Bidang pemberdayaan Sosial-Ekonomi dengan
menyediakan kursus dan bimbingan budi daya tanaman lokal yang bernilai jual
tinggi dan pengolahan hasil tanaman untuk menjadi barang
produksi rumah Tangga serta kursus keterampilan mata pencaharian lainya yang
disesuaikan dengan keadaan daerah setempat.
Solusinya: sudah, sedang dan akan diupayakan melalui
kolaborasi dengan pemerintah oleh :

Pemenuhan kebutuhan Pendidikan,Kesehatan dan Sosial-Ekonomi sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas SDM yang belum berkembang bagi kaum fakir miskin di pelosok Ppaua yang termarginalkan. Yayasan Tiga Jendela Bersaudara atau sering dikenal dengan YAYASAN JENDELA dengan segala Sumber Daya dan Program Kerja siap membangun Bangsa Indoensia yang dimulai dari Papua. Bersama Tiga Periode Program kerja Yayasan dari Jangka Pendek, Menengah sampai Jangka Panjang dalam Tiga Bingkai Jendela yakni Bingkai Kesehatan, Bingkau Pendidikan dan bingkai Sosial-Ekonomi yang saat ini mencari sponsor melalui skema Hibah Sosial dan atau Anggaran Bantuan Pemerintah dan atau Sumbangan Masyarakat Bagi Fakir Miskin Dan bantuan langsung dari masyarakat.
Jaman globalisasi ini suatu daerah dituntut untuk memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas dan terukur dengan IPM yang meningkat. Nasib Fakir miskin di Pelosok Papua sangat memprihatinkan. SDM yang berkualitas sangat diperlukan agar bisa bersaing dengan manusia lainnya sehingga dapat bertahan hidup dan meningkatkan kualitas kehidupan mereka. Kebutuhan hidup manusia yaitu, meliputi pangan, sandang, dan papan. Kebutuhan dasa bagi kaum fakir miskin di pelosok Papua sangat memprihatinkan sehingga Yayasan hadir untuk meringankan permasalahan pemenuhan kebutuhan dasar fakir miskin yang sudah dimulai dari tahun-tahun sebelumnya.
Tujuan Pengusulan Program
Kerja dan Proposal Bantuan Dana adalah :
1.
Tujuan Umum
Bersinergi dan mendukung Pemenuhan
Kebutuhan Dasar Fakir Miskin di pelosok Papua untuk mendukung Pembangunan bangsa Indonesia.
2.
Tujuan Khusus
1.
Membangun Pendidikan Indonesia bagi fakir miskin dari
Papua dengan menyediakan Pendidikan dan Asrama yang layak dan gratis bagi siswa
dan siswi dari keluarga tidak mampu.
2.
Membangun Kesehatan Indonesia bagi fakir miskin
dari Papua dengan menyediakan pelayanan kesehatan gratis dan melakukan pendampingan
peningkatan kesehatan berbasis keluarga dengan Program SAKSI bagi keluarga
fakir miskin.
3.
Membangun Ekonomi Indonesia dari Papua dengan menyediakan
pendampingan dna pelatohan keterampilan untuk peningkatan ekonomi kreatif keluarga
berbasis kearifan lokal bagi fakir miskin.
4.
Membangun Kesejahteraan Sosial Indonesia dari Papua
dengan menyediakan pendampingan peningkatan kesejahteraan keluarga fakir miskin
berbasis kearifan lokal.

Komentar
Posting Komentar